Dear Dr.Martens..

Ok, magabut dikit. Heuheuheu. Bosen bin jereng liat angka-angka di tabel excel, saya mulai membuka youtube buat lihat klip f(x). *Yapp, i’m a fan of them*. Setelah merapal klip hot summer, la cha dan danger, saya tiba di klip versi remix dari Hot Summer live dari 2011 KBS Song festival. Ada yang menarik dari video ini. Bukaan, bukan versi remixnya *unfortunately*, tapi adalah SEPATU yang digunakan oleh personel f(x). Yep, that’s it, Dr Martens!
Aaaaaakkk…*jejeritanheboh*

Gini nih bentuknya sepatu Dr.Martens (a.k.a doc mart).

Yang kanan kiyut… *jejeritanlagi*

Kenapa saya ngepans sama sepatu ini? Dua alasannya. Kokoh, tangguh – strong and solid. Bold enough as a pair of shoes, hehe. Kebayang gimana waktu make’nya ya.. Berasa powerfull dan siap menjajah dunia mungkin *ngayal*

Those shoes are incredibly AWESOME. Bisa di cek di situs resmi Dr.Martens USA  bagi yang penasaran sama katalog produknya ;)

Tapiii..(kenapa selalu ada tapi ><)
*lihat dompet, liat saldo tabungan, wishlist dulu ya naak*
Mari kita menabung !!

Workaholic yet ulfa?

Malam itu ibu bilang kalau dia kangen ngobrol denganku.

Loh, kan aku dirumah tiap hari bu, jawabku.
Iya, tapi nggak punya waktu buat ngobrol sama ibu. Bangun pagi mbak bersih2 rumah, mandi terus langsung berangkat kerja. Pulangnya, malem2, sudah capek, mandi, langsung masuk kamar.

Detik itu juga aku merasa seperti orangtua yang ada di cerita2. Kerja siang malam yang waktu senggangnya cuma hari sabtu minggu dan cuti bersama. Betapa sering aku merasa kecewa dengan orang tua seperti itu. Dan ternyata aku mulai berubah menjadi salah satu nya. Kecewa pada diriku sendiri yang tak bisa membagi waktu dengan baik untuk ibu dan adik2 ku.

Kupandangi ibu, kuserahkan handphone kepadanya. Mau baca berita detik bu? Berita detik.com online adalah kesukaannya. Dia mengambilnya dan mulai mengoceh macam2 tentang politik, hukum dsb.
Kulihat ibu, kubuat janji dalam hati, aku akan bekerja dan mengistirahatkan kerjaku dengan seimbang, setiap hari. Maafkan aku Ya Allah, membuat ibuku merasa terdzolimi oleh waktu-waktuku yang tidak pernah luang untuknya, meski sekedar untuk mengobrol.

What should i do with my life?

Kata-kata yang muncul di otak saya saat ini, sama persis dengan pembukaan post mas Nauval tentang Sang Penari (tos dulu mas :D )

I just watched this movie and suddenly have the urge to write about it.

Cuma ‘watched this movie” disini saya ganti dengan ‘read this article’.

Yep, di sabtu malam nan dingin nan hujan nan menimbulkan kegalauan absurd ini saya iseng bongkar-bongkar kolom Ultimate-U @ReneCC di Kompas Karir. Saya bongkar artikel dari mulai tahun 2010, in the last page. Saya tahu bahwa artikel artikel Rene sangat bersifat ‘kompor’. But this one is like.. ignite to an ultimate thing. Ini dia artikelnya.

Rene mengutip judul film sosial dokumenter karya Po Bronson : “What should i do with my life?”.

Continue reading